15 Mahasiswa USK Dikirim ke Thailand, Perkuat Ketahanan Bencana dan Infrastruktur Global

Oleh admin • 06 Apr 2026, 15:49 WIB • 92 Views

BANDA ACEH – Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) resmi diberangkatkan untuk mengikuti Equity World Class University Student Exchange Program 2026 di King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang (KMITL), Bangkok, Thailand, pada 6–10 April 2026.

Program internasional ini mengusung tema “Ketahanan Lintas Batas dan Infrastruktur Berkelanjutan antara USK & KMITL”, yang berfokus pada penguatan kapasitas menghadapi bencana serta pengembangan infrastruktur berkelanjutan di kawasan rawan risiko.

Para delegasi merupakan mahasiswa terpilih yang telah melewati seleksi administrasi dan wawancara ketat dari tiga program studi, yakni Magister Ilmu Kebencanaan, Teknik Sipil, dan Ilmu Kelautan.

Dari Magister Ilmu Kebencanaan, peserta yang diberangkatkan antara lain Putri Azhari, Raihana Ulfa, Mina Shafira, Imam Maulana, dan Nadia Maharani.

Sementara dari Teknik Sipil terdapat Ahmad Fadhilla, Pocut Radifah Syazwina, Bintang Haris Boenien, Salwa Fitria Ibrahim, serta Muhammad Faizil. Adapun dari Ilmu Kelautan, delegasi terdiri dari Kezia Emmanuella Wijaya, Siti Hijrah Happy Akasi, Rifan Nurdiantara, M. Abrar Azizi, dan Hanisyah.

Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, Syamsidik, menegaskan bahwa program ini menjadi langkah strategis untuk membuka wawasan global mahasiswa, khususnya dalam isu kebencanaan.
“Melalui kolaborasi internasional ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana ketahanan lintas wilayah dibangun, serta pentingnya infrastruktur berkelanjutan dalam mengurangi risiko bencana,” ujarnya.

Koordinator program, Yunita Idris, menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga mempertemukan mahasiswa dalam kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
“Mahasiswa akan melihat langsung bagaimana konsep ketahanan dan pembangunan berkelanjutan diterapkan di tingkat internasional,” jelasnya.

Selama lima hari di Bangkok, para peserta dijadwalkan mengikuti diskusi akademik, pertukaran pengetahuan, hingga kunjungan lapangan yang relevan dengan tema program. Kegiatan ini turut melibatkan akademisi KMITL seperti Viroon Kamchoon dan Yuliana sebagai mitra.

Salah satu peserta, Imam Maulana, mengaku bersyukur atas kesempatan tersebut. Ia menilai program ini menjadi ruang strategis untuk membawa perspektif Aceh ke level global.
“Ini bukan sekadar belajar di luar negeri, tapi juga bagaimana kami memperkenalkan pengalaman Aceh dalam menghadapi bencana ke dunia internasional,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Siti Hijrah Happy Akasi dari Ilmu Kelautan yang menilai program ini penting untuk memperluas jejaring dan wawasan, khususnya terkait pengelolaan wilayah pesisir.

Program ini juga menghadirkan Nurlita Putri Anggraini sebagai student chair session, serta pembicara undangan Ella Meilianda dan Dedy Alfian.

Melalui kegiatan ini, USK dan KMITL diharapkan semakin memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan sumber daya manusia, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang tangguh menghadapi tantangan global, khususnya di sektor kebencanaan dan pembangunan berkelanjutan.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top